Meneladani Akhlak Nabi Muhammad

Meneladani Akhlak Nabi Muhammad
Oleh: Harun Al Rasyid*

Di era yang sangat canggih ini kita bisa menggakses apapun yang kita inginkan, bahkan tak jarang dari kaum muda dan kaum anak-anak mengakses sesuatu yang tidak pantas baginya.

Di era Globalisasi saat ini mudahnya budaya barat masuk kenegara Indonesia menyababkan masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim meniru-niru budaya barat yang sangat bertentangan dengan syariat islam, seperti cara berfasion dan lainnya yang kebanyakan dari mereka mengumbar aurat di depan umum.

Bahkan tidak tanggung-tanggug kebanyakan dari generasi muda ummat islam yang diharapkan untuk memajukan islam pada masa depan mereka mengidolakan para bintang film, para artis dan pemain sepak bola seperti cristian ronaldo, lionel messi dan lainnya yang kebanyakan dari mereka adalah non muslim.

Bahkan tidak jarang dari mereka lebih mengidolakan pemain sepak bola dari pada nabinya sendiri. Na’udzbillah min dzaalik.

Terus siapa yang seharusnya kita idolakan dan kita tiru akhlaknya agar kita tidak terjerumus kejurang kegelapan.???

Tidak lain ialah sang pemilik budi luhur yang sangat agung yakni Muhammad bin Abdillah sang pembawa lentera kedamain.

 

Dalam al-qur’an Allah telah berfirman;

 “Sungguh, Muhammad SAW mempunyai akhlak (budi pekerti) yang agung,” (Surat Al-Qalam Ayat ke-4 ).

Dalam sebuah hadis riwayat Abu Hurairah disampaikan bahwa Nabi bersabda:

“Sesungguhnya aku (Muhammad) diutus hanyalah untuk menyempurnakan (memperbaiki) akhlak manusia.” (HR: al-Baihaqi)

 Akhlak Nabi

1. Rendah Hati (Tawadhu’)

Ada peristiwa menegangkan buat kita semua yang mencerminkan betapa beliau sangat tawadhu’ (rendah hati), padahal beliau adalah manusia yang dijamin masuk surga. Pada suatu ketika menjelang akhir hayatnya, Nabi berkata pada para sahabat, “Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggilku, aku tak ingin di padang mahsyar nanti ada diantara kalian yang ingin menuntut balas karena perbuatanku pada kalian. Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku pada kalian, ucapkanlah!”

Sahabat yang lain terdiam, namun ada seorang sahabat yang tiba-tiba bangkit dan berkata, “Dahulu ketika engkau memeriksa barisan di saat hendak pergi perang, kau meluruskan posisi aku dengan tongkatmu. Aku tak tahu apakah engkau sengaja atau tidak, tapi aku ingin menuntut qishash hari ini.”

Singkat cerita, Rasul memberikan tongkat pada sahabat itu seraya menyingkapkan bajunya, sehingga terlihatlah perut Nabi. Nabi berkata, “lakukanlah!”

Detik-detik berikutnya menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi perut Nabi dan memeluk Nabi seraya menangis, “Sungguh maksud tujuanku hanyalah untuk memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu! Aku ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah.”

Seketika itu juga terdengar ucapan, “Allahu Akbar” berkali-kali. Sahabat tersebut tahu, bahwa permintaan Nabi itu tidak mungkin diucapkan kalau Nabi tidak merasa bahwa ajalnya semakin dekat. Sahabat itu tahu bahwa saat perpisahan semakin dekat, ia ingin memeluk Nabi sebelum Allah memanggil beliau.

2. Pandai Menghargai

Ada sepenggal kisah indah ketika ada sahabat terlambat datang ke Majelis Nabi. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat.

Di tengah kebingungannya, Rasul memanggilnya. Rasul memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup sampai di situ, Rasul pun melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi mencium sorban Nabi.

Lihatlah bagaimana Nabi menghargainya sampai-sampai sahabatnya menangis karena tersanjung.

3. Menyimak dalam Berdialog

Nabi Muhammad Saw pernah didatangi utusan pembesar Quraisy, Utbah bin Rabi’ah. Ia berkata kepada Nabi, “Wahai kemenakanku, kau datang membawa agama baru, apa yang sebetulnya kau kehendaki. Jika kau kehendaki harta, akan kami kumpulkan kekayaan kami, Jika Kau inginkan kemuliaan akan kami muliakan engkau. Jika ada sesuatu penyakit yang dideritamu, akan kami carikan obat. Jika kau inginkan kekuasaan, biar kami jadikan engkau penguasa kami”

Nabi mendengar dengan sabar uraian tokoh musyrik ini. Tidak sekalipun beliau membantah atau memotong pembicaraannya. Ketika Utbah berhenti, Nabi bertanya, “Sudah selesaikah, Ya Abal Walid?”

“Sudah.” kata Utbah.

Nabi membalas ucapan Utbah dengan membaca surat Fushilat. Ketika sampai pada ayat sajdah, Nabi bersujud. Sementara itu Utbah duduk mendengarkan Nabi sampai menyelesaikan bacaan dan sujudnya.

Lihatlah bagaimana Nabi Muhammad Saw menyimak ide-ide yang disampaikan Utbah bin Rabi’ah. Adalah perilaku kita oleh si Utbbah seorang musyrik pun, kita kalah. Utbah masih mau mendengarkan Nabi dan menyuruh kaumnya membiarkan Nabi berbicara. Kita sekarang, jangankan mendengarkan pendapat orang kafir, kita bahkan sering tidak mau mendengarkan pendapat saudara sesama muslim.

Na’udzbillah min dzaalik.

4. Peduli kepada Si Miskin

Ada seorang wanita muslimah yang biasa membersihkan masjid Nabi di Madinah. Ketika Rasulullah saw tidak melihatnya lagi beberapa hari dan beliau menanyakan perihalnya kepada sahabat, maka disampaikan kepada beliau bahwa wanita tersebut sudah meninggal. Maka beliau bersabda: “Mengapa aku tidak diberi tahu kalau ia meninggal? Aku pasti ikut dalam sembahyang janazahnya” dan beliau menambahkan, “Barangkali kalian tidak memandangnya cukup penting karena ia miskin. Anggapan itu salah. Bawalah aku ke kuburnya.” Kemudian beliau pergi ke sana dan berdo’a untuk dia (Al-Bukhori, Kitabus-Salat)

 5. Jujur dan Amanah

Salahsatu ahlak Nabi Muhammad SAW adalah Ash Shiddiq atau jujur. Beliau adalah orang yang tidak pernah berbohong. Sejak kecl, beliau sudah memiliki sifat jujur, bahkan ketika beliau masih menjadi pedagang. Beliau selalu menyebutkan dengan jujur modal yang beliau gunakan untuk barang dagangannya dan terserah kepada pembeli akan memberikan lebih atau tidak pada barang yang dibelinya. Sehingga Nabi Muhammad Saw dikenal dalam “dunia bisnis” pada zaman itu sebagai pedagang atau pebisnis yang jujur. Di zaman sekarang, mungkin tidak banyak jika ada pedagang yang jujur seperti itu.

Karena jujur dan amanah maka beliau sangat bisa dipercaya, sehingga beliau pun terkenal dalam sejarah umat manusia sebagai satu-satunya manusia yang mendapat gelar “Al Amin” yang artinya adalah orang yang “dapat dipercaya.”

Akhlak Nabi : Paling Layak untuk Kita Ikuti

Nabi Muhammad Saw pernah bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan ahlak yang terpuji”. Dan kemudian Nabi saw benar-benar mejadi sumber teladan terbaik, terindah, termulia, terpuji dan terlengkap sebagai teladan dari berbagai sisi kehidupannya. Apa yang disebutkan di atas hanyalah sedikit contoh dari akhlak Nabi.

Sudah seharusnya kita Sebagai seorang muslim menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai panutan kita dalam berahlak. Karena beliaulah semulia-mulianya manusia di dunia ini, akhlak mulia beliau adalah yang paling layak untuk kita ikuti. Sehingga kita bisa merasakan hidup indah bersama ahlak Nabi Muhammad saw. Tak akan pernah ada ahlak yang lebih indah daripada akhlak Nabi SAW junjungan kita.

Demikianlah ajakan kami mudah-mudahan kita semua bukan ngaku-ngaku umatnye Nabi saje, melainkan bener-bener melaksanekah akhlaknya Rosul Nabi Besar Muhammad Saw dalam kehidupan sehari-hari dan sekaligus mudah-mudahan akan mendapatkan syafaat beliau Rosul Nabi Besar Muhammad SAW. Aamiin. Wassalam.

Reporter: Rasyid_Harun MPW

Tags: , , ,
banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan