Bolehkah Mengucapkan Selamat Hari Natal ???

Bolehkah Mengucapkan Selamat Hari Natal ???

Perayaan hari-hari besar dunia saat ini merupakan suatu keharusan oleh negara manapun di belahan dunia untuk memperingatinya tak terkecuali bagi indonesia walaupun peringatan tersebut bertentangan dengan ideologi umat islam yang menjadi mayoritas bumi pertiwi ini.

muncul dari kepercayaan penyembah berhala yang dianut oleh masyarakat Babilonia kuno dibawah raja Namrud dan sekarang peringatan ini telah bnayak di adaopsi oleh negara mayoritas islam lainnya , tentu hal ini butuh koreksi mendalam karena dalam peringatan ini sangat berbenturan dengan aqidah keislaman kita.

Sudah menjadi pengetahuuan umum, banyak dari kalangan kita (orang islam) mengikuti perayaan hari natal disinilah kesalahan kesalahan kita membiasakan sesuatu yang kelliru (haram) meskipun dengan tujuan yang berbeda, bagaimana tudak haram, sebab pringatan hari natal tidak lepas dari soal aqidah Maka, perayaan hari natal merupakan bagian dari keharusan tersebut, adanya perayaan yang,mengikuti perayaan hari natal sama halnya dengan mengakui adanya tuhan selain allah yaitu adanya tuhan bapak, tuhan ibu, dan tuhan anak, hal ini merupakn kekufuran terhadap allah swt.

Hadratus Syaich Hasyim Asy’ari dalam kitabnya Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah berfatwa “Barang siapa mengakui ketuhanan allah swt akan tetapi ia juga mengakui Dia (Allah SWT) memiliki anak danv sekutu, maka ia kelluar dari agama, berdasarkan kesepakatan ulama” Artinya, pengakuan orang tersebut tidak di terima karena tidak setia kepada allah swt.

Selain itu, keharaman mengikuti perarayaan hari natal dan mengucapkan selamat hari natal karena termasuk menyerupai kebiasaan ­– kebiasaan mereka, ibnu umar dari nabi muhammad saw beliau bersabda ; “barang siapa menyerupai suatu golongan maka ia termasuk dari golongan tersebut” (HR. ImamAhmad)

meskipun dengan alasan tooleransi (karena saat ini banyak opnum menghalalkan segala sesuatu dengan berdalih tolerans)i,

Nah, toleransu antar umat beragama yang sesungguhnya dalam islam ialah menghormati tanpa mengakui keyakianann mereka (nom muslim),  memang umat islam di perbolehkan berhubungan dengan umat lainnya sepeerti bekerjasama bergaul bermain dan lainnya dalam ruang lingkup yang terbatas yaitu dalam lingkup sosial saja, tetapi umat islam tidak boleh mencampur adukan antara aqidahnya denga aqidah agam lain+

Dahulu dimasa rasullullah saw, ketika jenazah orang yahudi melintas di depan nabi muhammad saw dan para sahabat. Nabi muhammad saw pun berhenti dan berdiri. Para sahabat terkejut kemudian bertanya; “kenapa engkau berhenti ya rasullah saw ? sedangkan itu adalah jenazah orang yahudi”. Nabi pun menjawabnya : “ bukankah dia juga manusia“. (HR.Bukhari).

Ketika rasulullahsaw tiba tiba berdiri, tentu saja para sahabat kaget, namun para sahabat akhirnya paham ternyata rasulullahsaw tidak mengikuti ritual pemakaman orang yahudi tersebut, b eliau Cuma berdiri tidak sampai ikut menghantarkan ke liang lahat dengan berbagai ri tualnya, coba di perhatikan alasan beliau menghormati jenazah orang yahudi tersebut  “bukankah dia manusia” sehingga toleransi yang melammpaui ranah sosial tidak ndapat di benarkan, karena itulah nabi tidak mengatakan : “bukankah dia yahudi” sebab toleransi tidak dengan membenarkan ke yahudian-nya

Tags: , ,
banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan