DEVINISI IDGHAM DALAM ILMU NAHWU

DEVINISI IDGHAM DALAM ILMU NAHWU

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Bahasa arab merupakan bahasa yang mendapat kehormatan menjadi bahasa yang digunakan oleh Allah dalam menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW. Kitab suci al qur’an dan umat pertama yang mengemban risalah pengembangan islam menggunakan bahasa arab. dan sampai saat ini posisi bahasa arab tidak tergantikan dan memang tidak boleh digantikan. Ada beberapa ibadah yang mesti dilakukan dengan menggunakan bahasa arab, seperti sholat misalnya. Tidaklah sah sholat seseorang jika menggunakan bahasa selain bahasa arab. Al- qur’an pun tetap digunakan dalam bahasa arab, kalaupun ada terjemahannya, itu harus tetap ada bagian bahasa arabnya. Dan untuk sumber-sumber pengetahuan dalam agama islam itu sebagian besar ada dalam kitab-kitab berbahasa arab. Imam Asy-Syafi’i mengatakan, Manusia menjadi buta agama, bodoh dan selalu berselisih paham lantaran mereka meninggalkan bahasa Arab, dan lebih mengutamakan konsep Aristoteles.

Berangkat dari itu, maka penulis mencoba menguraikan bab idgham yang merupakan salah satu bab yang harus diketahui oleh mahasiswa yang mempelajari bahasa ara b utamanya mahasiswa jurusan PBA STAI Syaichona MOh. Cholil.

 

  1. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang menjadi dasar penulisan makalah ini adalah :

  1. Apa pengertian Idgham ?
  2. Berapa Pembagian Idgham ?
  3. Ada Berapa Hukum Idgham ?
  4. Bagaimana Proses Idgham ?

 

  1. Tujuan Masalah

Tujuan yang menjadi dasar  penulisan makalah ini adalah :

  1. Mengetahui pengertian Idgham
  2. Mengetahui Pembagian Idgham
  3. Mengerti Hukum Idgham
  4. Mengerti Proses Idgham

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Idgham

Kata idgham (ادغام) secara etimologi berarti memasukkan, yang diambil dari kata adghama (أدغم)[1] sedangkan pengertian secara terminologi idgham adalah memasukkan huruf pada huruf yang sejenis, sekiranya dua huruf tersebut menjadi satu dengan cara diberi tasydid seperti مَدَّ يَمُدُّ مَدًّا asalnya adalah مَدَدَ يَمْدُدُ مَدْدًا [2].

Didalam idgham, huruf yang pertama disukunkan sedangkan huruf yang kedua diberi harokat dengan tanpa adanya pemisah diantara kedua huruf tersebut.

sukunnya huruf yang pertama adakalanya memang asal seperti مَدًّا atau dengan pembuangan harokat seperti مَدَّ  dan شَدّ , atau dengan memindahkan harokat (huruf yang pertama) pada huruf sebelumnya seperti يَمُدّ dan يشُدُّ .

Pengidghaman huruf dapat terjadi pada dua huruf yang berdekatan makhrojnya (المتقاربين) ataupun dua huruf yang sama dalam makhrojnya (المتجانسين), hal tersebut dapat dilakukan dengan cara mengganti huruf yang pertama agar menyamai huruf yang kedua seperti امّحى asalnya انمحى ikut wazan انفعل , ataupun dengan mengganti huruf yang kedua agar menyamai huruf yang pertama seperti ادّعى asalnya ادتعى ikut wazan افتعل .

 

  1. Pembagian Idgham

Idgham terbagi pada idgham shaghir dan idgham kabir.

  • Idgham Shaghir adalah idgham yang huruf pertamanya sukun secara asal.
  • Idgham Kabir adalah idgham yang kedua hurufnya sama-sama berharokat kamudian huruf yang pertama disukunkan atau memindah harokat huruf yang pertama pada huruf sebelumya.

adapun alasan dikatakan idgham kabir karna dalam idgham kabir terdapat dua tahapan, yaitu mensukunkan dan memasukkan (ادغام) sedangkan didalam idgham shaghir hanya memasukkan saja[3].

 

  1. Hukum Idgham

Hukum idgham terbagi menjadi tiga, yaitu wajib, boleh dan tidak boleh.

  1. Idgham Yang Diwajibkan

Idgham diwajibkan dalam dua huruf yang satu jenis apabila berkumpul dalam satu kalimat, baik keduanya berharokat seperti مَرَّ يَمُرُّ asalnya مَرَرَ يَمْرُرُ , atau haruf yang pertama sukun sedangkan huruf yang kedua berharokat seperti مَدًّا dan عَضًّا asalnya مَدْدَا dan عَضْضًا . adapun perkataan penyair الحمد لله العَلِّيِّ اْلاَجْلَلِ , maka termasuk keadaan darurat dalam kalam sya’ir. sedangkan yang sesuai dengan kaidah shorrof adalah الاَجَلِّ .

Kemudian apabila huruf yang pertama dari kedua huruf yang satu jenis itu sukun, maka langsung diidghamkan pada huruf yang kedua tanpa melakukan  perubahan seperti شَدٍّ dan صَدٍّ asalnya شَدْدٍ dan صَدْدٍ. dan apabila huruf yang pertama berharokat, maka harokatnya dibuang (disukunkan) kemudian diidghamkan apabila huruf sebelumnya berharokat atau berupa huruf mad seperti رَدَّ dan رَادٌّ asalnya رَدَدَ dan رَادِدٌ , sedangkan apabila huruf yang sebelumnya sukun, maka memindahkan harokatnya huruf yang pertama pada huruf sebelumnya seperti يَرُدُّ asalnya يَرْدُدُ .

Wajib mengidghamkan dua huruf مثلين yang bersandingan yang mana huruf pertama sukun, apabila berada dalam dua kalimat yang seperti satu kalimat, hanya saja apabila huruf yang kedua berupa dlomir, maka wajib mengidghamkan secara lafad dan penulisan, sedangkan apabila huruf yang kedua bukan berbentuk dlomir, maka wajib mengidghamkan secara lafad saja, seperti:

سَكَتُّ، سَكَتَّـا، عَنَّا، عَلَيَّ، اكتُبْ بِالقلم، قُلْ له، استغفِرْ ربَّك  .

 

Dikatakan syad (شاذ) tidak melakukan pengidghaman yang seharusnya dilakukan didalam beberapa lafad yang tidak bisa dibuat analogi seperti :

ألِلَ السقاء والاسنان، دَبَب الانسان، ضبِبَتِ الارض، قطِطَ الشعر، لحِحَت العين ولـخَخَت، مشَشَتِ الدابة، عزُزَتِ الناقة.

dalam lafad قطِطَ، لحِحَت لـخَخَت، terkadang diidghamkan menjadi لـخَّت ، قطَّ ، لـحَّت

Didalam beberapa kalimat isimpun dikatakan syad (شاذ) terjadi seperti: رجل ضَفَفُ الحال، وطعام قَضِيْضٌ.  dalam dua contoh ini kita bisa juga mengatakan ضَفُّ الحال وطعام قَضُّ dengan mengidghamkan atau طعام قَضِضٌ dan tidak boleh diidghamkan karena قَضِضٌ ikut wazan فَعِلَ [4].

 

  1. Idgham Yang Diperbolehkan

Diperbolehkan mengidghamkan huruf atau tidak menghidghamkan huruf dalam empat keadaan :

  1. Huruf yang pertama dari dua huruf yang sama (مثلين) berharokat sdangkan huruf yang kedua disukunkan dengan sukun yang bukan asal (عارض) karena di jazemkan dsb. contoh: لم يمُدَّ و مُدَّ dengan mengidghamkan dan لم يمدُدْ dengan tidak mengidghamkan, dan ini lebih biak, demikian pula didalam al-Qur’an قال الله تعالى ” يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيْءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ” (النور : 35) وقال ” وَاشْدُدْ عَلَى قُلُوْبِهِمْ ” (يونس : 88).

Apabila huruf yang diidghami bersambung dengan alif (ألف) tatsniyah atau wawu (واو) jama’ atau ya’ (ياء) mukhotobah atau nun (نون) taukid, maka wajib diidghamkan sebab sukunnya huruf yang kedua sudah hilang, contoh :  لَمْ يمُدَّا ومُدَّا، ولم يمُدُّوا ومُدُّوا، ولم تَمُدِّي ومُدِّي، ولم يَمُدَّنْ ومُدَّنْ، ولم يَمُدَّنَّ ومُدَّنَّ sedangkan bila huruf yang diidghami bersambung dengan dlomir rafa’ mutaharrik, maka tidak boleh diidghamkan, sebagaimana yang akan dijelaskan dibelakang.

Harokatnya yang kedua didalam fi’il mudlorik dan fi’il ‘amar itu ikut pada harokat fa’ (فاء) fi’ilnya menurut mayoritas pendapat ulama’ contoh: رُدُّ وَلَمْ يَرُدُّ، عَضَّ ولَمْ يَعَضَّ، فِرِّ وَلَمْ يَفِرِّ namun juga diperbolehkan membaca fathah atau kasroh walaupun fa’ fi’ilnya dibaca dlommah: رُدَّ ولَم يَرُدَّ، رُدِّ ولَم يَرُدِّ. serta membaca kasroh walaupun fa’ fi’ilnya dibaca fathah: عَضِّ ولَم يَعَضِّ dan membaca fathah walaupun fa’ fi’ilnya dibaca jasroh: فِرَّ ولَم يَفِرَّ .

Dari penjelasan di atas dapat kita pahami bahwa apabila fa’ fi’ilnya dibaca dlommah, maka huruf yang diidghami atau huruf yang yang kedua dlommah, fathah dan kasroh, namun dibaca kasroh adalah pendapat yang lemah sedangkan dibaca fathah sama dengan dibaca dlommah dalam kevalidan hukum dan popularitasnya. dan apabila fa’ fi’ilnya dibaca fathah, maka huruf yang diidghami boleh dibaca fathah atau kasroh, tapi yang lebih utama dan lebih populer dibaca fathah. sedangkan apabila fa’ fi’ilnya dibaca kasroh, maka huruf yang diidghami boleh dibaca kasroh dan fathah dan keduanya mempunyai kredibilitas hukum yang sama.

Dalam keadaan seperti ini (adanya proses idgham dalam fi’il mudlorik), maka jazemnya fi’il mudlorik dikira-kirakan di akhir hurufnya sebab adanya harokat pengidghaman mencegah untuk menjelaskannya (jazemnya mudlorik). dan mabni sukunnya fi’il amar juga dikira-kirakan pada huruf yang terakhir sebab adanya harokat pengidghaman mencegah untuk menjelaskannya (sukunnya fi’il ‘amar).

Perlu juga untuk diketahui bahwa adanya hamzah washol dalam fi’il ‘amar dari fi’il tsulatsy mujarrod ( seperti: أُمْدُدْ  ) tidak dibutuhkan lagi setelah adanya proses idgham, maka dibuang dan menjadi مُدَّ , sebab alasan mendatangkan hamzah washol adalah agar adanya kalimat tidak dimulai dengan haruf yang sukun dan penyebab ini telah hilang (seiring proses idgham) karena huruf pertama sudah berharokat.

  1. Apabila ain (عين) fi’il dan lam (لام) fi’il suatu kalimat berupa ya’ (ياء) yang lazim serta ya’ yang kedua berharokat, contoh : عَيِيَ وحَيِيَ , maka boleh juga kita ucapkan dengan idgham : عَيَّ وحَيَّ .

Apabila harokatnya huruf yang kedua tidak asli (عارض) karna adanya i’rob, contoh : لَنْ يُحْيِيَ، ورَأَيت مَحْيِيًا , maka tidak boleh diidghamkan, begitu juga (tidak boleh idgham) apabila sukunnya huruf yang kedua tidak asli, contoh : عَيِيْتُ وحَيِيْتُ.

  1. Apabila pada permulaan fi’il madli terdapat dua ta’ (تاء), contoh : تَتَابَعَ وتَتَبَّعَ , maka hukum idgham diperbolehkan serta menambahkan hamzah washol dipermulaannya agar tidak dimulai dengan huruf yang sukun, contoh : اِتَّابَع واِتَّبَع . kemudian apabila yang demikian adalah fi’il mudlorik, maka tidak boleh diidghamkan, bahkan diperbolehkan meringankannya (تخفيف) dengan membuang salah satu ta’nya, contoh : تَتَجَلَّى وتَتَلَظَّى menjadi تَجَلَّى وتَلَظَّى , contoh lain firmah Allah SWT. ” تنزل الملائكة والروح ” (القدر : 4) وقال ” نارا تلظى ” (الليل : 14) maksudnya تَتَنَزَّل وتَتَلَظَّى . dan yang demikian ini sering sekali digunakan.
  2. Dua huruf yang sama bersandingan dalam dua kalimat serta sama-sama berharokat, contoh : جعلَ لي وكتبَ بالقلم , maka boleh diidghamkan dengan mensukunkan huruf yang pertama : جعلْ لي وكتبْ بالقلم , hanya saja dalam hal ini pengidghaman husus secara lafad bukan secara tulisan[5].

 

  1. Tempat-Tempat Yang Dilarang Melakukan Idgham

tidak boleh melakukan idgham didalam tujuh (7) tempat :

  1. Apabila kedua huruf mitslain menjadi permulaan kata, contoh : دَدَنٍ ودَدًا ودَدٌ ودَدَانِ وتَتَرٍ ودَنَنٍ .
  2. Keduanya berada pada kalimat isim yang mengikuti wazan فُعَلٍ , contoh : دُرَرٍ وجُدَدٍ وصُفَفٍ atau mengikuti wazan فُعُلٌ , contoh : سُرُرٍ وذُلُلٍ وجُدُدٍ atau mengikuti wazan فِعَلٍ , contoh : لِمَمٍ وكِلَلٍ وحِلَلٍ atau mengikuti wazan فَعَلٍ , contoh : طَلَلٍ ولَبَبٍ وخَبَبٍ .
  3. Keduanya barada pada wazan yang ditambah untuk disamakan (dengan wazan fi’il ruba’i) , baik tambahannya adalah salah satu dari dua huruf tersebut atau bukan, contoh : جَلْبَبَ dan هَيْلَلَ .
  4. Huruf pertama dari huruf mitslain bersambung dengan huruf yang menjadi target idgham (مدغم فيه) , contoh : هَلَّلَ ومهَلَّلٍ، شَدَّدَ ومشَدَّدٍ , apabila dalam contoh ini masih diidghamkan lagi, maka akan terjadi pengulangan idgham yang tidak diperbolehkan.
  5. Dalam wazan أَفْعَلَ yang berfaidah ta’ajjub, contoh : أَعْزَزْ بِالعِلْمِ ! وأَحْبَبْ بِهِ ! maka tidak boleh diidghamkan menjadi أَعَزَّ بِهِ! وأَحَبَّ بِهِ! .
  6. Salah satunya disukunkan (bukan sukun yang asal) dikarenakan bertemu dengan dlomir rafa’ mutaharrik, contoh : مددْتُ، مددْنَا، مددْتَ، مددْتُمْ ومددْتُنَّ .
  7. Berapa lafad syad (شاذ) yang tidak diidghamkan oleh orang Arab sebagaimana telah dijelaskan didepan[6].

 

Sebuah Faedah

Fi’il madli yang tiga huruf, tidak ada penambahan, dibaca kasroh ‘ain fi’ilnya, berbina’ mudlo’af serta disandarkan pada dlomir rafa’ mutaharrik, maka boleh dibaca dengan tiga cara :

  1. Tetap secara sempurna (hurufnya) dengan tanpa melakukan idgham, contoh : ظَلَّ dibaca ظَلِلْتُ .
  2. Membuang ‘ain fi’ilnya dan fa’ fi’ilnya tetap dibaca fathah, contoh : ظَلْتُ .
  3. Membuang ‘ain fi’il dan memindah harokatnya pada fa’ fi’il setelah membuang harokatnya fa’ fi’il, contoh : ظِلْتُ . Alloh ta’ala berfirman ” وَانْظُرْ اِلَى اِلهِكِ الذي ظَلْتَ عليه عاكِفًا ” (طه : 97) dan juga ” لَوْ نشاء لَجَعلناهم حُطامًا فَظَلْتُمْ تَفَكَّهُون  ” (الواقعة : 65), dalam kedua ayat tersebut dho’ dibaca fathah berpijak pada  harokatnya yang tetap dan dho’ dibaca kasroh berpijak pada harokatnya yang dibuang dan memindah harokatnya huruf lam yang dibuang pada huruf dho’.

Fi’il amar atau fi’il mudlorik yang tiga huruf, tidak ada penambahan, berbina’ mudlo’af, ‘ain fi’ilnya dibaca kasroh baik amar maupun mudlorik, serta disandarkan pada dlomir rafak mutaharrik, maka boleh dibaca dua :

  1. Dibaca itmam, contoh : يَقِرُّ وقِرَّ dibaca يَقْرِرْنَ واِقْرِرْنَ .
  2. Membuang ‘ain fi’il dan memindah harokatnya pada fa’ fi’il, contoh : يَقِرْنَ وقِرْنَ . termasuk dalam contoh ini ayat ” وَقَرْنَ في بيوتِكُنَّ ” (الاحزاب : 33) dengan membaca kasroh huruf qof kalau tidak ikut bacaan imam ‘Ashim dan Nafi’, sedangkan imam ‘Ashim dan Nafi’, maka huruf qof dibaca fathah, sehingga tidak boleh dibaca kasroh kecuali sama’i. termasuk juga ayat ” وقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ ” dengan dibaca fathah qofnya menggunakan bacaan imam Nafi’ dan ‘Ashim yang diikuti oleh imam Hafs. untuk bacaan kasroh asalnya adalah اِقْرِرْنَ karena lafad قرَّ bisa saja ikut wazan فعَل يفعِل atau فعِل يفعَل [7].

 

  1. Proses Idgham dan Praktek I’lal

Pada bina’ Mudha’af terdapat idgham, yaitu: kamu harus mematikan huruf yang pertama dan mengidupkan huruf yang kedua, maka huruf pertama disebut Mudgham, dan huruf kedua disebut Mudgham Fih.

Idgham itu wajib didalam contoh tashrif: مَدَّ يَمُدُّ, وَأَعَدَّ يُعِدُّ, وَاعْتَدَّ يَعْتَدُّ, وَانْقَدَّ يَنْقَدُّ, وَاسْوَدَّ يَسْوَدُّ, وَاسْوَادَّ يَسْوَادُّ, وَاسْتَعَدَّ يَسْتَعِدُّ, وَاطْمَأَنَّ يَطْمَئِنُّ, وَتَمَادَّ يَتَمَادُّ.

Demikian juga wajib idghom contoh-contoh tashrif fi’il diatas, bilamana kamu membentuknya untuk Mabni   Majhul contoh : مُدَّ يُمَدُّ, Dan analokkanlah pada contoh ini untuk contoh lain persamaannya. Juga wajib idgham di dalam contoh مَدٍّ sebagai isim masdarnya.

Demikian juga wajib idgham, bilamana pada fi’il tersebut bersambung dengan Alif dhamir, Wau dhamir atau Ya dhamir, contoh: مُدَّا مُدُّوْا مُدِّيْ.

Idgham itu dilarang pada contoh tasrif: مَدَدْتُ, وَمَدَدْنَا, وَمَدَدْتَ … hingga مَدَدْتُنَّ, وَمَدَدْنَ, وَيَمْدُدْنَ, وَتَمْدُدْنَ, وَامْدُدْنَ dan لَا تَمْدُدْنَ.

Dan idgham itu Jaiz/boleh, bilamana amil jazm masuk pada fi’ilnya yg tunggal: jika fi’il tersebut berharakat kasrah ‘Ain Fiilnya seperti يَفِرُّ, atau berharakat fathah ‘Ain Fiilnya seperti يَعَضُّ, maka kamu ucapkan menjadi: لَمْ يَفِرِّ dan لَمْ يَعَضِّ dengan kasrah/fathah lam fiilnya. Atau kamu ucapkan menjadi: لَمْ يَفْرِرْ dan لَمْ يَعْضَضْ dengan tanpa Idgham.

Dan seperti itu juga hukumnya (syarat jaiz idgham diatas) lafazh يَقْشَعِرُّ, يَحْمَرُّ, dan   يَحْمَارُّ, Jika ‘ain fi’il mudhari’nya (fi’il tunggal yg jazem) berharakat dhammah: maka boleh dengan tiga harakat beserta idgham. Atau tanpa idgham. Contoh kamu mengucapkan: لَمْ يَمُدِّ dengan tiga harakat dal. Dan contoh لَمْ يَمْدُدْ dengan tanpa idgham.

Dan seperti itu juga hukum fi’il amarnya, maka kamu ucapkan : فِرِّ dan عَضِّ dengan kasrah atau fathah lam fiilnya.

Dan jika fiil amar tsb berharakat dhammah ‘ain fiilnya, maka kamu ucapkan: (diidgham) مُدِّ dengan tiga harakat. Atau (tanpa idghamامْدُدْ.

Kamu ucapkan dalam isim fa’ilnya (wajib idgham): مَادٌّ مَادَّانِ مَادُّوْنَ, مَادَّةٌ مَادَّتَانِ مَادَّاتٌ, وَمَوَادُّ Dan kamu ucapkan dalam isim maf’ulnya: مَمْدُوْدٌ seperti halnya مَنْصُورٍ (tanpa idgham)[8].

Bilamana ada dua huruf sejenis atau hampir sama makhrajnya berkumpul dalam satu kalimah, maka huruf yang pertama harus di-idghamkan pada huruf yang kedua,–ini setelah menjadikan huruf yang hampir sama makhrajnya serupa dengan huruf yg kedua (lihat kaidah i’lal ke 18 insyaallah)–, karena beratnya pengulangan/memilah-milahnya. contoh  مَدَّ  asalnya مَدَدَ  dan مُدِّ asalnya اُمْدُدْ, dan اتَّصَلَ  asalnya اِوْتَصَلَ.

Praktek I’lal:  مَدَّ , مُدِّ/مُدَّ/مُدُّ

مَدَّ  asalnya مَدَدَ ikut pada wazan فَعَلَ, huruf dal yang pertama disukunkan untuk melaksanakan syarat Idgham, maka menjadi مَدْدَ, kemudian huruf Dal yang pertama di-idgamkan pada huruf Dal yang kedua, maka menjadi مَدَّ

مُدِّ/مُدَّ/مُدُّ  asalnya اُمْدُدْ mengikuti wazan اُفْعُلْ, harkah Dal yang pertama dipindah pada huruf sebelumnya untuk melaksanakan syarat Idgham, maka menjadi اُمُدْدْ, bertemu dua huruf mati/sukun yaitu kedua Dal, maka Dal yang kedua diberi harkah untuk menolak bertemunya dua mati/sukun, baik diberi harkah kasrah karena kaidah; “apabilah ada huruf mati mau diberi harkah, berilah harkah kasrah”. atau diberi harkah fathah karena ia paling ringannya harkah. atau diberi harkah dhammah, karena mengikuti harkah ‘Ain fi’il pada fi’il mudhari’nya, maka menjadi اُمُدْدِ/اُمُدْدَ/اُمُدْدُ, kemudian Dal yang pertama di-idgham-kan pada Dal yg kedua maka menjadi اُمُدِّ/اُمُدَّ/اُمُدُّ, kemudian Hamzah Washal-nya dibuang karena sudah tidak dibutuhkan lagi, maka menjadi مُدِّ/مُدَّ/مُدُّ[9].

Bilamana Fa’ Fi’il wazan اِفْتَعَلَ berupa huruf wau, atau Ya’, atau Tsa’, maka huruf Fa’ Fi’ilnya tersebut harus diganti Ta’ karena sukarnya mengucapkah huruf “Layn” (لَيْن) sukun dengan huruf yang diantara keduanya termasuk berdekatan Makhrajnya dan bertentangan sifatnya, karena huruf “layin” (و – ي) bersifat Jahr sedangkan huruf Ta’ bersifat Hams. Contoh: اِتَّصَلَ asalnya اِوْتَصَلَ dan اِتَّسَرَ asalnya اِوْتَسَرَ dan اِتَّغَرَ asalnya اِثْتَغَرَ. (penting) dan apabila Fa’ Fi’il-nya tsb berupa huruf Tsa’, boleh mengganti Ta’nya wazan اِفْتَعَلَ  dengan Tsa’, karena keduanya sama-sama bersifat Hams. contoh: اِثَّغَرَ  asalnya اِثْتَغَرَ.

Praktek I’lal:  اِتَّصَلَ, اِتَّسَرَ , اِتَّغَرَ

اِتَّصَلَ asalnya اِوْتَصَلَ mengikuti wazan اِفْتَعَلَ Wau diganti Ta’ untuk mudahnya mengucaplan huruf Layn sukun dengan huruf yang berdekatan Makhrajnya dan bertentangan sifatnya, karena huruf Layn bersifat Jahr dan huruf Ta’ bersifat Hams, maka menjadi اِتْتَصَلَ kemudian Ta’ pertama di-idghamkan pada Ta’ kedua karena dua huruf yang sejenis maka menjadi اِتَّصَلَ.

اِتَّسَرَ asalnya اِوْتَسَرَ mengikuti wazan اِفْتَعَلَ Wau diganti Ta’ untuk mudahnya mengucaplan huruf Layn sukun dengan huruf yang berdekatan Makhrajnya dan bertentangan sifatnya, karena huruf Layn bersifat Jahr dan huruf Ta’ bersifat Hams, maka menjadi اِتْتَسَرَ kemudian Ta’ pertama di-idghamkan pada Ta’ kedua karena dua huruf yang sejenis maka menjadi اِتَّسَرَ.

اِتَّغَرَ asalnya اِثْتَغَرَ mengikuti wazan اِفْتَعَلَ huruf Tsa’ diganti Ta’ karena sama-sama bersifat Hams, maka menjadi اِتْتَغَرَ kemudian Ta’ pertama di-idghamkan pada Ta’ kedua karena dua huruf yang sejenis maka menjadi اِتَّغَرَ

Dan boleh juga dibaca Tsa’ اِثَّغَرَ dengan Praktek I’lal sbb:اِثَّغَرَ asalnya اِثْتَغَرَ mengikuti wazan اِفْتَعَلَ huruf Ta’ diganti Tsa’ karena sama-sama bersifat Hams, maka menjadi اِثْثَغَرَ kemudian Tsa’ pertama di-idghamkan pada Tsa’ kedua karena dua huruf yang sejenis maka menjadi اِتَّغَرَ

Penting untuk diketahui:

اِتَّخَذَ asalnya اِئْتَخَذَ mengikuti wazan اِفْتَعَلَ huruf Hamzah yang kedua diganti Ya’ karena ia sukun dan sebelumnya ada huruf berharkah kasrah, maka menjadi اِيْتَخَذَ kemudian huruf Ya’ diganti Ta’ (tanpa mengikuti kias*) maka menjadi اِتَّخَذَ.

* Pergantian Ya’ dengan Ta’ tidak mengikuti Qias yakni termasuk dari perihal Syadz[10].

 

  1. Keterangan Tambahan

Bila terdapat huruf dua yang sama dan berharkat didalam satu kalimat, maka huruf yang pertama harus di idghamkan pada huruf yang kedua. Seperti lafadz شَدّ aslnya شدد  ikut wazan    فَعَلَ dan lafadz ملّ asalnya ملِلَ ikut  wazanفعل. Dan lafadz حبّ asalnya حَبُبَ ikut wazan  فَعُلَ demikian itu dangan syarat tidak seperti lafadz :

صُفَفُ yaitu jama’ taksir ikut wazan: فُعَلُ

ذُلُلُ                                             فُعُلُ

كِلَلُ                                            فِعَلٌ

Dan lafdz لَبَبٌ yaitu isim mufrad yang ikut wazan فَعَلٌ . Dan lafadz jama’ yang ikut wazan فُعَّلٌ sepeti lafadz جُسَّسٌ.

Bila terdapat huruf dua dalam satu kalimat yang sudah memenuhi syarat untuk di idghamkan, tetapi tidak di idghamkan, maka dihukumi syadz. Seperti lafadz :

أَلِلَ السِقاءُ, دَبِبَ الانسانُ, ضَحِك الفرَسُ. . dan semua ini di hukumi sama’i.

Fi’il yang ain fi’ilnya dan lam fi’ilnya berupa ya’. Dan ya’ tersebut sama-sama berharkat denga harkat yang asal, seperti lafadz حَيِيَ, عَيِيَ itu boleh dibaca idgham dan boleh tidak idgham. Boleh dibaca حَيَّ-حيي, عيَّ-عَيِيَ. Berbeda dangan harkat ya’ yang keduanya tidak asal, bahkan baru datang. Seperti lafadz لن يُحيِيَ maka lafadz ini tidak boleh dibaca idgham. Sebab harkat yang kedua itu baru datang karna ada amil naasab berupa lafadz لن .sebelum ada لَنْ dibaca يُحْيِيْ dari fi’il madi اَحْياَ maka lafadz ini tidak boleh dibaca idghom.

Demikian juga lafadz yang seperti تتَجَلَّى yaitu fi’il yang mengandung ta’ dua yang kumpul dimuka, Boleh dibaca idgham dengan mendatangkan hamzah wasol, seperti lafadz اِتَّجَلَّى . dan seperti lafadz اِسْتَتَرَ  yaitu fi’il yang ikut wazan اِفْتَعْلَ yang mengandung ta’ dua kumpul di tengah. Boleh dibaca idghom dengan cara memindah harkatnya huruf  awal dari huruf dua yang sama kepada huruf dua yang mati didepanya. Lalu hamzah wasolnya dibuang. Kemudian dibaca سَتَّرَ

Apabila ada fi’il mudlorik yang  diawalnya ta’ dua berkupul yang satu ta’ mudharooah da yang satu ta’ wazan تفعّل itu boleh diringkas menjadi ta’ satu. Maksudnya ta’ yang satu boleh dibuang. Bila terdapat fi’il yang mana ain fi’il dan lam fi’ilnya hurufnya sama. Kemudian lam fi’ilnya harus dibaca sukon karna bertemu dengan dhomir yang mahal rofa’ dan berharkat, seperti ta’ dhomir atau dhomir “na” atau nun jama’ inas. Maka fi’il tersebut tidak boleh dibaca idghom. Seperti lafadz: حَلَلْتُ حَلَلْنَا يَحْلِلْنَ. Dan apabila ada fi’il yang lam fi’ilnya dibaca sokon karna amil jazam atau serupanya, seperti sighat amar, maka fi’il itu boleh dibaca idgham contoh: لم يحْلِلْ-لم يحلَّ, احلِلْ-حلَّ.[11]

Apabila ada huruf dua sama serta berkumpul dalam satu kalimat baik sama-sama hiduf atau tidak ( yang pertama mati dan yang kedua hiduf ). Maka harus di idghomkan. Dan apabila  huruf yang pertama hiduf dan huruf yang kedua mati. Maka tidak boleh di idghomkan, Karna harkat huruf yang pertama telah memisah antara huruf yang pertama dengan huruf yang kedua. Seperti lafadz:  ظَنَنْتُ و يكتبُ ابْنك فرضَه و مَللْتُ السفر .

Apabila huruf yang pertama mati sedangkan huruf yang kedua hidup. Maka wajib di idghomkan denga beberapa syarat, Antara lain:

  • Awalnya huruf المتماثلين tidak berupa هاء السكت. Apabila berupa هاء السكت. Maka tidak boleh di idghomkan. Seperti ayat: “ ما أغنى عني ماليه هلك عني سلطانيه “ (الحاقة : 27-29   )
  • Awal المتما ثلين tidak berupa huruf mad diakhir kalimat. Contoh: جاء الطلب فاصطفوا ودخلوا صفوفهم
  • Adanya idghom tidak mengakibatkan keserupaan wazan dengan wazan yamg lain. Contoh: قوول majhulnya قاول , Dan حوول majhulnya حاول . Tidak serupa dengan majhulnya قوّل و حوّل

Apabila huruf mislain itu sama-sama hidup, Maka adakalanya boleh diidghomkan ada yang wajib serta ada yang tidak boleh diidghomkan. Adapun tempat-tempat yang tidak boleh diidghomkan yaitu:

  • Lafadz atau kalimat yang diawali oleh dua huruf yang sama. Contoh دَدَن( اللعب), تتر
  • Apabila dua huruf itu adalah isim yang ikut wazan فُعَل نحو: دُرَر . atau isim yang ikut wazan فُعُل نحو: سُرُر, ذُلل, . Atau ikut wazan فِعل نحو: لِمَم و حِلَل . Atau ikut wazan فَعَل  نحو: طَلَل, خَبَب
  • Apabila huruf itu ikut wazan أفْعِل (في التعجب).Contoh أحبب بالوطن
  • Sukonya salah satu huruf mislain itu baru datang dikarnakan sambung dengan dhomir rofa’ mutaharriq. Seperti contoh: وددْتُ, وددْتَ, شددْنا
  • Apabila huruf mislain tersebut ada dalam wazan yang mulhaq dengan yang lain. Contoh : جلْبب, هيلل

Adapun tempat-tempat yang diperbolehkan idghom antara lain:

  • Bila huruf yang kedua matinya itu baru datang karna disebabkan oleh amil jasem atau

serupanya. Contoh:  لم يمدَّ- يَمْدُدْ و شُدَّ- اشْدُدْ.Tapi yang lebih baik tidak di idghomkan.

  • Apabila suatu lafadz tersebut diawali oleh dua ta’. Baik di awalnya fi’il madi atau fi’il mudhoriq. Seperti contoh: تتابع , اتابع) و (تتّبع , اتّبع) –( تتذكر, تذّكر) (تتمنّون , تمنّون) (تتوقد,توقّد) (
  • Yaitu fi’il yang bersighot افتعل yang diawali oleh dua ta’. Contoh: ( استتر , ستّر , يستتر , يستِّر , ستّار)
  • Bila mana ada fi’il yang mana ain fi’il dan lam fi’ilnya berupa ya’ dan harkat ya’ yang kedua itu tetap bukan baru datang. Contoh: ( عيِيَ,عيَّ)و(حيِي,حيّ) .Dan apabila harkatnya huruf yang nomer dua itu baru dating, Seperti kemasukan amil nashab. Maka tidak boleh di idghomkan. Sepetirti contoh: ( لن يحْيِيَ ) .
  • Apabila terdapat dua huruf mislain yang terdapat didalam dua kalimat. Seperti contoh: ( كتب بالقلم , كتبْ بالقلم )

Adapun tempat-tempat yang di wajibkan idghom antara lain:

  • Yaitu apabila terdapat dua huruf mutajanisian yang berkumpul dalam satu kalimat. Baik sama-sama hidup seperti lafadz : مدّ – مَدَدَ . Atau yang pertama mati dan yang kedua hidup. Seperti contoh: جِدَّ – جدْد
  • Bila terdapat dua huruf mutajanisain yang berdekatan didalam kalimatnya. Maka di idghomkan secara lafadznya dan penulisanya, Demikian itu apabila dilafadz tersebut huruf yang nomer dua burupa huruf mislain yang berupa dhamir Contoh: سكتُّ, سكنا, عليّ . Apabila huruf  mislain yang nomer dua itu bukan burupa dhamir. Maka harus di idghomkan secara lafadz saja. Seperti contoh: أكتب بالريشة – استغفرربك  .

Apbila terdapat fi’il madi yang bangsa tiga huruf ( mujarrod ) dan ain fi’ilnya dibaca kasroh serta mudho’af yang di musnadkan pada dhomir rofa’ mutaharriq. Maka boleh dibaca tiga. Yaitu:

  • Tidak di idghomkan. Contoh: ظِللْتُ
  • Ain fi’ilnya dibuang sedangkan herkatnya fa’ ditetapkan( fathah). Contoh: ظَلْتُ

Ain fi’ilnya dibuang dan harkatnya ain tersebut di pindah pada huruf sebelumnya. Contoh: ظِلتُ .

BAB III

KESIMPULAN

 

Idghom secara bahasa yaitu memasukkan sesuatu pada sesuatu yang lain. Seperti perkataan orang arab “ أدغمت الثياب في الوعاء “. Adapun idghom menurut istilahnya yaitu memasukkan huruf yang mati kedalam huruf lain yang sama, yang berharkat dengan tanpa ada pemisah antara huruf yang pertama dan huruf yang kedua. Seperti lafadz مدّ, شدّ- مدْد و شدْد.

Sedangkan hukum idgham terbagi tiga yaitu boleh, wajib dan tidak boleh, yang mana hal itu ditinjau dari bentuk masing-masing kalimat.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Musthafa al-Ghulayayni, 1971, Jami’ al-Durus al-Arabiyah, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Bairut.

Muhammad bin Mukarram bin Madhur al-Afriqy al-Mishry, 1996, Lisan al-Arob, Darun Shadir, Bairut.

Hamdani, al-Sidani, 2002, Marjiu al-Salik 4 jus, Pustaka Sidogiri, Sidogiri Pasuruan.

Dr. Amil Badiy’, 2004, Mausu’atu al-Nahwi wa al-Shorfi wa al-I’rob, Dar al-Anwariyah, Sarang Rembang.

Muhammad Mundzir Nadzir, 1999, Qowa’idul i’lal, Pustaka Sidogiri, Sidogiri Pasuruan.

Abi al-Hasan Ali bin Hisyam al-Kailani, 2000, Syarh Kailani Matan Izzi, Nurul Huda, Surabaya.

 

 

[1] Muhammad bin Mukarram bin Madhur al-Afriqy al-Mishry, Lisan al-Arob, Bairut, juz 12, hal. 202

[2] Musthafa al-Ghulayayni, Jami’ al-Durus al-Arabiyah, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Bairut, juz 2 hal.66

[3] Musthafa al-Ghulayayni, Jami’ al-Durus al-Arabiyah, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Bairut, juz 2 hal.66-67

[4] Musthafa al-Ghulayayni, Jami’ al-Durus al-Arabiyah, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Bairut, juz 2 hal.67

[5] Musthafa al-Ghulayayni, Jami’ al-Durus al-Arabiyah, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Bairut, juz 2 hal.68 – 69

[6] Musthafa al-Ghulayayni, Jami’ al-Durus al-Arabiyah, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Bairut, juz 2 hal.70

[7] Musthafa al-Ghulayayni, Jami’ al-Durus al-Arabiyah, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Bairut, juz 2 hal.70

[8] Abi al-Hasan Ali bin Hisyam al-Kailani, Syarh Kailani Matan Izzi, Nurul Huda, Surabaya, hal. 20

[9] Muhammad Mundzir Nadzir, Qowa’idul i’lal, Pustaka Sidogiri, hal. 7

[10] Muhammad Mundzir Nadzir, Qowa’idul i’lal, Pustaka Sidogiri, hal. 10

[11] Hamdani, al-Sidani, Marjiu al-salik, Pustaka Sidogiri, juz 4 hal. 120

Tags: , , , ,
banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan